Update Berita:

Politik uang di Pilkada DKI hukumnya haram

Calon Gubernur DKI Hidayat Nurwahid menegaskan, dirinya telah berkomitmen mengharamkan penggunaan politik uang dalam Pilkada DKI Jakarta pada Juli mendatang.

"Menghadirkan pemilukada DKI Jakarta yang bebas dari politik uang adalah hal yang biasa buat kami," ujar Hidayat dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis.

Menurut calon gubernur nomor urut 4 ini, menghadirkan pemilukada yang bebas politik uang bukanlah sekadar janji, namun sudah ia buktikan bersama PKS. "Tentu tim kami sangat siap untuk itu (tidak berpolitik uang)," ujar anggota Komisi I DPR RI tersebut.

Ia menjelaskan sudah menjadi rahasia umum setiap kali suksesi kepemimpinan suatu kelompok, organisasi, atau bahkan pemerintahan, tidak pernah terlepas dari politik uang.

"Secara umum mungkin iya, namun tidak dengan PKS," ungkap mantan Presiden PKS ini.

Hidayat menjelaskan, meskipun PKS sudah berkali-kali melakukan pergantian pemimpin, namun tidak pernah terjadi keributan, apalagi diwarnai politik uang.

Demikian pula saat dirinya menjadi Ketua MPR RI periode 2004-2009. Hidayat mengungkapkan, sejak awal hingga akhir kepemimpinannya, tidak pernah diwarnai konflik, apalagi politik uang.
_______

Salimah Target Bina 1000 Majelis Taklim

Organisasi massa, Persaudaraan Muslimah (Salimah) Surabaya, targetkan mampu membina 1000 kelompok perempuan di Surabaya. Hal itu, menurut Aris Setijawati, Ketua Umum Pimpinan Daerah PD Ormas Salimah Kota Surabaya merupakan target untuk mempertahankan Surabaya sebagai Kota Layak Anak dan ramah perempuan.

Menurut Aris, jumlah tersebut akan menjadi target kepengurusan Salimah Kota Surabaya hingga 5 tahun kedepan. Aris menambahkan, gerakan Salimah ini menjadi program yang selaras dengan agenda pemerintahan kota Surabaya, yaitu ramah dan peduli perempuan dan keluarga.

"Targetnya, selama 5 tahun kedepan, Salimah Surabaya harus membina 1000 kelompok perempuan," kata dia saat acara pelantikan pengurus PD Salimah Surabaya 2012-2017 di Aula Lebah Biru Telkom, Minggu (3/6).

Aris mengatakan, target 1000 binaan perempuan tersebut dapat dicapai melalui majelis taklim dan kelompok pendidikan untuk kaum Ibu. Caranya, Salimah akan membina dan mengembangkan majelis baik di kampung, rumah maupun perkantoran. Fungsinya, majelis taklim tersebut menjadi fasilitator untuk menumbuh kembangkan peran perempuan dalam keluarga.

Selain majelis taklim, target itu juga akan didukung dengan program yang berbasis keluarga seperti pendidikan ketrampilan keluarga, peduli pendidikan anak usia dini. Bahkan, Salimah akan memerankan sebagai fasilitator pemberdayaan ekonomi untuk ibu. Semua gerakan tersebut akan dipadukan dengan langkah gerak PKK yang mulai digenjot pemerintah untuk pencapaian MDGs tahun 2015 nanti.

Menurut Aris, Salimah yang berdiri di Surabaya tahun 2006 itu memang menjadi ormas yang memfokuskan diri untuk pemberdayaan perempuan, dakwah muslimah, peduli anak dan keluarga. Untuk itu, tambahnya, Salimah siap bergandengan dengan semua pihak agar Surabaya tetap menjadi kota layak anak dan ramah perempuan.
______

PKS Bentuk Tim Penokohan Capres

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mulai membentuk tim untuk mematangkan penokohan figur-figur yang akan diusung menjadi calon presiden (capres).

Ketua DPP PKS Mustafa Kamal mengatakan, tim tersebut kini terus dimatangkan partainya. “Kami menjaring tokoh internal maupun eksternal yang punya track record baik di masyarakat dan kita anggap pantas memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara. Setelah itu kita saring seketat-ketatnya. Jadi dua mekanisme itu (untuk) menjaring seluas-luasnya dan menyaring dengan ketat,” ujar dia kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Dia menyatakan, PKS punya visi dan misi yang tertuang dalam platform PKS.

Mustafa menyampaikan, tentunya dalam melakukan penokohan pihaknya akan melihat komitmen terhadap keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan lebih luas dalam koridor konstitusi. Ditanya soal nama-nama tokoh, dia mengutarakan, tim yang dibentuk ini baru dimatangkan partai. Nantinya, DPP PKS sendiri akan memberikan keleluasaan untuk menyusun kriteria tokoh-tokoh yang akan dijaring.

“Itu nanti akan keluar kriterianya. Sekarang jika dilihat dari aspek penjaringan intuitif,sudah kelihatan orangorangnya. Saat ini mungkin terlalu pagi melakukan penilaian dan kita tidak ingin masuk ke wilayah nama-nama. Nanti kita kriteriakan dulu,” paparnya. Menurut dia, penjaringan tokoh yang terlalu dini menyebutkan nama merupakan tahapan kerja yang prematur. Karena itu sampai saat ini PKS belum membuat kriteria tokoh yang akan diusung.Termasuk saat disinggung mengenai kemungkinan PKS mengusung mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Bahkan Obama Pun Berguru Pada Hidayat Nur Wahid

Presiden Barack Hussein Obama menilai, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid  adalah tokoh muda yang cemerlang dan pemimpin baru bagi Indonesia."Di mata Obama, tokoh PKS ini adalah pemimpin baru untuk Indonesia. Ia sederhana dan cerdas," ujar Obama sebagaimana dituturkan Inung Nugroho, wartawan ABC, Australia

Presiden Barack Hussein Obama menilai, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid  adalah tokoh muda yang cemerlang dan pemimpin baru bagi Indonesia."Di mata Obama, tokoh PKS ini adalah pemimpin baru untuk Indonesia. Ia sederhana dan cerdas," ujar Obama sebagaimana dituturkan Inung Nugroho, wartawan ABC, Australia.

Inung menjelasakan, komentar itu meluncurkan dari mulut Obama ketika ia menyelenggarakan acara talk shaw pada 2004 yang dihadiri Obama-saat itu ia masih sebagai senator- para tokoh
partai politik, pengamat, dan United Nation Development Programme (UNDP).

Menurutnya, Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat (AS) lantaran ia berguru dari kepribadian Hidayat Nur Wahid. "Obama melihat mantan Presiden PKS ini sederhana, pintar, dan visi kenegaraannya bagus. Obama belajar dari pribadi Dr. Hidayat Nur Wahid," kata wartawan yang juga seniman ini.

Sosok dan pemikiran Hidayat, sambung dia, kini dibutuhkan Indonesia sebagaimana Obama dibutuhkan AS. "Muda, energik, dan mampu memelihara kerukunan bangsa," tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan seniman senior Solo, Agus Sunaryo Damarhusada, saat peluncuran dan pelantikan “Sahabat Hidayat”, di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo, Senin 29 Desember 2008. Menurutnya, Hidayat merupakan tokoh bangsa yang sederhana. Dari kesederhaannya itu adalah keistimewaannya. "Tiada keistimewaan melainkan kesederhaan. Tiada kesederhaan melainkan keistimewaan. Bapak Hidayat Nur Wahid itu orangnya sederhana, tinggal memperbanyak sahabatnya," ujarnya.

Ayah tiga anak ini mengaku bukan anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tapi sebagai warga negara, ia merasa kagum dengan kehadiran Hidayat di panggung politik. "Ia bersih dan patut memimpin negeri ini. Negara dan bangsa ini menjadi sejahtera, susah, aman, damai, konflik, dan sebagainya tergantung pemimpinnya," imbuhnya. (Saifuddin)

Penulis : Bayu Gawtama

(tulisan ini pernah dimuat di warnaislam.com pada tahun 2008, judul asli “Obama: HIdayat Nur Wahid Tokoh Muda Cemerlang dan Pemimpin Baru bagi Indonesia”)
_________

Di USA, Bule-pun Dukung Hidayat-Didik

Texas (4/6) - Dukungan kepada pasangan no 4: Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta kali ini bukan saja datang dari Warga Negara Indonesia, bahkan datang dari Bule yang tinggal di Texas, Amerika Serikat.

Deklarasi dukungan kepada Hidayat-Didik ini digelar di Richard Greene Park yang terletak di antara Ranger (Baseball) Stadium dan Cowboy (American Football) Stadium pada hari Ahad (3/6/2012). Tokoh masyarakat Indonesia di Texas, Asman Nasution mengatakan, "Meskipun kami yang tinggal di Amerika Serikat saat ini tidak bisa nyoblos, kami mengajak saudara-saudara di Jakarta untuk memilih Hidayat-Didik karena mereka bersih, peduli, dan berkemampuan untuk memperbaiki Jakarta."

Acara Deklarasi ini diawali dengan jalan santai keluarga yang diikuti oleh sekitar 30 orang WNI. Panitia acara ini, Erianto Yusuf menjelaskan, "Pak Hidayat memiliki concern yang besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, kami turut mendorong program beliau dengan mengawali kegiatan deklarasi ini dengan kegiatan yang menyehatkan badan sekaligus mendekatkan hubungan suami-istri dan anak-anak."

Mereka yang hadir dalam acara deklarasi dukungan untuk Hidayat-Didik ini mewakili berbagai kalangan, sebagian besar adalah kalangan profesional, selebihnya, pemuda, pelajar, mahasiswa, dan ibu rumah tangga, termasuk seorang Bule, Jeff Keysocks. "My wife, Emy, who is from Indonesia, told me about Hidayat. People of Jakarta should elect him as Governor since he has all the ingredience to be a successful governor!", katanya meyakinkan.

Mereka semua puas mendapatkan jawaban dan penjelasan langsung dari pak Hidayat melalui Skype  tentang  bagaimana 'ngeberesin Jakarta'. Meskipun pak Hidayat tampak lelah karena di Jakarta sudah larut malam sedangkan di Dallas masih menjelang siang, namun beliau tetap semangat dan sekali-sekali menyelingi jawaban beliau dengan joke-joke yang membuat pendengar tertawa lepas.

Deklarasi dukungan kepada Hidayat-Didik disudahi dengan brunch dan doa bersama agar pemilukada DKI Jakarta bisa berjalan dengan jujur dan adil sehingga terpilih pemimpin yang berakhlak mulia dan mampu 'ngeberesin Jakarta'.
____________

Kisah Gadis Kristen, Ikhwan dan Sopir Taksi




twit Oktarizal Fiardi

@OktaRizalFr
Cairo


  1. Ada #kisah menarik yg terjadi di salah satu provinsi Mesir...

  2. Seorang gadis naik taksi. Setelah duduk dlm taksi sopir bertanya: "Memilih siapa ketika Pilpres?"

  3. Si gadis menjawab, "Mohammed Morsi" si sopir heran dan protes, "Kenapa? Dia kan Ikhwan?"

  4. Si sopir berancang2 mengkritik Morsi, "Saya seorang muslim dan nama saya Mohammed"

  5. Si gadis memotong dan balik menjawab: "Saya Kristen dan nama saya Marian"

  6. Si sopir tmbh bingung n brkata: "Bukankah Shafiq akan menempatkan Injil dalam buku pelajaran dan mnghapus ayat2 al Quran?"

  7. Si gadis menjawab: "Bagaimana mungkin saya akan memberikan suara saya kepada orang yg tdk mnghormati agamanya"

  8. Si gadis melanjutkan: "Ktk gereja sy diledakkan, Shafiq ada brsama Mubarak smntra Ikhwan ktk itu dipenjara...."

  9. "Ketika syuhada' berguguran, Shafiq mnjabat sbg Perdana Menteri sementara Ikhwan ada bersama demonstran d Tahrir"

  10. Setelah mndengar penuturan si gadis, sopir taksi berujar, "Stlh mndgar kata2 kamu saya akn pilih MORSI"

  11. Allahu akbar walillahi allhamd (Allah Maha Besar n Segala puji hny milik Allah)
__________
PksPiyungan

PKS Usul TKI Bebas Biaya Asuransi dan Paspor

Fraksi PKS menyampaikan perlunya negara memberikan asuransi gratis bagi calon pekerja yang kurang mampu. Apalagi memang, mayoritas mereka memiliki penghasilan yang rendah, sehingga akan memberatkan apabila harus membayar premi asuransi.

Demikian disampaikan anggota Komisi IX DPR Indra SH saat membacakan pandangan Fraksi PKS terkait pengesahan RUU Tentang Perlindungan Pekerja Indonesia di Luar Negeri di Ruang Baleg DPR, Selasa (29/5).

Fraksi PKS mengusulkan perubahan redaksi Pasal 53 dalam RUU tersebut, dengan menghilangkan kewajiban bagi Calon Pekerja Indonesia di Luar Negeri dan/atau Pekerja Indonesia di Luar Negeri untuk menanggung biaya Asuransi/Jaminan Sosial.

“Di balik tingginya biaya untuk menjadi TKI calon pekerja, mereka menjual harta benda, tanah, ternak dan bahkan berhutang,” katanya.

Fraksi PKS juga mengusulkan khusus untuk pekerja sektor domestik, negara harus menanggung biaya pembuatan paspor dengan memperhatikan peraturan tentang keimigrasian yang berlaku. Dalam surat Keputusan Ditjen Imigrasi pada Departemen Hukum dan HAM nomor IMI2.UM.01.01.1-18 tertanggal 11 Januari 2010 diatur bahwa pekerja Indonesia di luar negeri adalah gratis dapat memperoleh paspor 24 halaman secara gratis. Apabila pekerja menginginkan paspor 48 halaman maka biaya yang timbul ditanggung pekerja sendiri.

Terakhir, Fraksi PKS memandang bahwa proses kepulangan pekerja luar negeri ke daerah asal perlu mendapat pengawasan ketat pemerintah. Hal tersebut khususnya bagi pekerja Indonesia di luar negeri yang bekerja di sektor domestik atau yang berpengetahuan minim. Apalagi, mereka sering menjadi korban kejahatan.

“Namun demikian, pekerja tersebut tetap diberi kebebasan untuk memilih sendiri cara pulang menuju daerah asalnya,” kata Indra.

Pandangan Fraksi PKS ini, menurut Indra, disampaikan dalam rangka memenuhi hak warga negara Indonesia tersebut. Negara dinilai wajib menjamin hak, kesempatan dan memberikan perlindungan bagi setiap warga Negaranya baik di dalam maupun di luar negeri tanpa diskriminasi.

“Sebagai pahlawan devisa Negara, maka calon pekerja atau pekerja Indonesia diluar negeri perlu mendapat perlindungan yang optimal dan mendasar, sehingga pembaharuan RUU dengan konsep yang mutakhir sangatlah penting,” ujarnya.
___________

FPKS: RUU Kesetaraan Gender Tetap Berbasis Budaya dan Agama

Ledia Hanifa, anggota Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) Komisi VIII DPR RI, meyakinkan bahwa setiap RUU tentu dimaksudkan untuk memberikan sebesar-besarnya kebaikan bagi masyarakat, termasuk RUU KKG.

“Semangat rancangan undang-undang KKG ini sebagaimana judulnya adalah untuk mengarah pada terjadinya keadilan gender, dengan beberapa titik tekan pada perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Tentu saja sama sekali kita tidak ingin RUU ini justru memunculkan mudharat seperti goyahnya keharmonisan keluarga,” ujar Ketua DPP PKS Bidang Kewanitaan ini dikutip laman resmi fpks.or.id.

Aleg FPKS ini mengingatkan, adanya diskriminasi, ketidakadilan maupun tindakan-tindakan kekerasan berbasis gender yang utamanya banyak menimpa kaum perempuan memang merupakan fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Belum lagi bila mengingat bahwa separuh penduduk Indonesia adalah kaum perempuan, sementara dalam hal akses pendidikan, akses kesehatan, ekonomi dan kebijakan justru para perempuan Indonesia masih tertinggal jauh dari kaum laki-laki. Padahal, dari para perempuan inilah akan lahir generasi penerus yang akan menjadi penentuan nasib bangsa masa datang.

Karenanya, menurutnya,  kasus-kasus kekerasan dan ketidakadilan gender diupayakan hilang dari tengah masyarakat melalui undang-undang KKG. Tetapi keharmonisan keluarga, kodrat perempuan, serta pemuliaan hak dan tanggungjawab perempuan sebagai individu, isteri dan ibu juga tak akan ditinggalkan.

“Karena itu kita perlu sama-sama berjuang untuk menghilangkan diskriminasi dan kekerasan berbasis gender sambil mengukuhkan ketahanan keluarga dan memberikan support khusus bagi kaum perempuan sebagai individu, istri atau ibu untuk menjalankan hak dan tanggungjawab mereka sebagai manusia Indonesia yang berbudaya dan beragama,” kata wanita yang juga Ketua V Kaukus Perempuan Parlemen RI.

Sektor Pembangunan bukan Perkawinan

Sebelumnya, RUU ini banyak ditolak kaum Muslim. Organisasi kewanitaan Muhammadiyah, 'Aisyiyah PW Jawa Barat pernah melakukan pengkajian pada hari Selasa, (01/05/2012), Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Jawa Barat  dalam acara “Round Table Discussion” (RTD).

Dalam diskusi yang berlangsung, undangan yang hadir menyepakati beberapa hal dalam mengkritisi RUU-KKG ini. Di antaranya, ‘Aisyiyah mengusulkan, agar  RUU-KKG  difokuskan dan dibatasi pada bidang atau sektor-sektor pembangunan yang memungkinkan negara untuk campur tangan di dalamnyabukan pada bidang perkawinan. Sektor pembangunan yang dimaksud adalah, yaitu; Bidang Politik,  Pemerintahan, Kewarganegaraan, Pendidikan, Komunikasi dan Informasi, Ketenagakerjaan, Kesehatan dan Keluarga Berencana, Ekonomi dan Bidang Hukum.

Hasil RTD yang diselenggarakan oleh Majelis Hukum dan HAM, Majelis Tabligh dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan  Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat tersebut  itu dirumuskan secara lebih detail dan dijadikan bahan masukan pada Komisi VIII DPR/RI melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat.*
__________

Tifatul: Capres Jangan "Lu Lagi, Lu Lagi"

Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring mendukung tokoh-tokoh lama untuk tidak lagi maju sebagai calon presiden di Pemilu 2014. Semua partai politik, menurut Tifatul, seharusnya memberi ruang kepada tokoh muda untuk maju sebagai pemimpin negara.

"Kalau ditanya secara pribadi, saya setuju orang muda maju (sebagai capres) dan harus berani. Orang tua jangan menghalangi. Harus ada penyegaran. Jangan L4, lu lagi lu lagi," kata Tifatul di kompleks Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (28/5/2012).

Sebelumnya, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas berharap agar tokoh-tokoh senior tak lagi maju sebagai capres. Menurut Taufiq, semua partai politik harus memberi ruang kepada tokoh muda untuk maju sebagai capres.

Tifatul mengatakan, ia akan mengusulkan kepada Dewan Syuro PKS untuk mendorong tokoh muda sebagai capres. Meski demikian, kata dia, sampai saat ini belum ada pembicaraan mengenai capres di internal.
_______

'Dilema PKS'


Apa dilemanya dan siapa yang dilematis?
Dilema itu adalah situasi yang sulit dan membingungkan. Maka harus ada jawaban dari pertanyaan, Dilema dalam memilih apa dengan apa? Apa yang dibingungkan siapa? Siapa yang bingung? Siapa yang dalam kondisi sulit memilih? Siapa yang sedang sulit memilih apa dengan apa?

Pendahuluan.

Ada satu buku yang cukup cepat mengambil perhatian publik sesaat setelah buku itu beredar. Dilema PKS karya Burhanuddin Muhtadi (BM). Diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Buku ini menambah kekayaan tema PKS. Tema PKS memang cukup mengundang public untuk membacanya, kendati, sejatinya, sudah banyak buku tentang PKS baik yang ditulis oleh orang PKS maupun pihak luar PKS.

Buku ini adalah buku hasil olahan tesis penulisnya di Australian National University (ANU). BM mencoba mencoba menganalisis upaya PKS dengan teori politik yang beliau kuasai. Dalam kajian ilmu politik, sulit memadukan Islam dan demokrasi dan Gerakan Sosial dan Gerakan Politik dalam satu lembaga. Maka, secara teoritis, PKS akan sulit melakukan semuanya itu. Bagi BM, PKS sedang dalam dilema untuk memilih, apakah PKS akan memuaskan Islam atau menguatkan demokrasi?

Bagi kader PKS, tema ini mungkin sudah selesai. Bagi penggemar PKS, buku ini bercerita agak banyak. Bagi pembenci PKS, buku ini bisa menjelaskan ketidaksukaan. Tapi siapapun anda, jika anda ingin melihat bagaimana seorang ahli ilmu politik melihat upaya yang sedang dilakukan PKS, maka buku ini layak dipertimbangkan untuk dibaca. Setidaknya buku ini empirik, ramah dan tidak membabibuta dalam menuduh PKS.

Alhamdulillah, saya sudah membaca buku itu. Saya ingin berbagi hasil bacaan saya. Saya tulis hasil bacaan saya dan saya berharap ini berguna bagi anda.

Buku Tentang Apa?

Buku ini memang khusus tentang PKS. Buku ini tentang dilema PKS. Dilema itu apa? Secara bahasa, dilema adalah situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan. Dilema itu adalah situasi yang sulit dan membingungkan.

Buku ini tentang dilema PKS ; apakah PKS akan menjadi catch all party seperti AKP (Adelat ve Kalkinma Partisi) di Turki atau menjadi partai kader yang menjadi representasi basis sosial pendukung awal seperti PAS di Malaysia.

Tema Partai Islam memang hampir selalu menarik. Tapi mengapa tema ini menarik? Pasti ada banyak tedensi di balik banyaknya penelitian terhadap PKS dan Partai Islam. Tapi setidaknya ada 2 pertanyaan penting di penelitian-penelitian itu ;
  1. Seberapa serius ancaman Islam terhadap tatanan sosial politik di tingkat domestik dan internasional?
  2. Apakah islamisme bisa menjadi potensi yang memperkuat reformasi sosial dan demokrasi di dunia muslim?
Jadi? Memang ada 2 diskursus tentang upaya partai islam. Pertama, islamisme sebagai ancaman. Kedua, islamisme sebagai penguat reformasi.

Lalu mengapa PKS menarik untuk diteliti? Kata Anis Matta, banyaknya penelitian tentang PKS membuat paduan antara rasa heran dan rasa bangga. Ya, mengapa PKS banyak diteliti? Menurut prof. Greg Feady, itu karena PKS adalah partai kedua tersukses di dunia setelah AKP di Turki. PKS mewakili kisah sukses Partai Islam dan itu menarik untuk diteliti dengan motif apapun. Tema tentang PKS memang tema yang seksi. Banyak yang ingin tahu. Banyak yang ingin meneliti. Sedikit tulisan yang menyingkap bagian-bagian yang agak dalam saja, pasti sudah menarik perhatian public. Maka tulisan yang menceritakan dilema menjadi catch all party atau menjadi partai kader yang menjadi representasi basis sosial pendukung pasti cukup menarik perhatian publik untuk membaca buku ini.

Tetapi, menurut internal PKS, apakah dilema itu ada?. Apakah memang ada dilema semacam itu dalam tubuh PKS? Setidaknya Anis Matta membenarkan adanya resistensi internal itu, ada resistensi internal untuk menjadikan PKS terbuka.

Buku ini menyajikan data empirik kisah sukses PKS. Buku ini bercerita tentang sejarah PKS, transformasi PKS, aksi-aksinya, iklan-iklannya, perolehan suaranya, dan dilemanya di masa depan. Buku ini menjawab pertanyaan mengapa PKS sukses. Buku ini menyajikan data mengapa PKS menang. Dan buku ini kemudian menjelaskan dilema PKS di masa depan, isu negatif, perpecahan, dan komentar-komentar kekecewaan terhadap PKS.

Jadi, buku ini menceritakan tentang kisah sukses PKS di masa lalu dan tentang adanya dilema PKS di masa depan.

Bagaimana BM memotret Dilema PKS?

Di buku ini, BM meletakkan bab Dilema PKS di bab 7 dari 8 bab yang ada. Bab Dilema PKS memang diletakkan sebagai puncak bahasan, sebelum simpulan penulis.

Awalnya, BM meyakinkan bahwa agama adalah faktor penting yang memengaruhi pilihan politik lebih dari variable bahasa dan kelas social. Lalu BM banyak menulis tema politik aliran, Pemilu 1955, Qua Vadis Politik Aliran, dan kemudian BM memotret perolehan suara PKS dengan mengutip hasil LSI (lembaga Survei Indonesia).

Menurut BM, PKS sedang belajar merangkul pemilih baru. Ini berarti merambah konstituen baru. Dengannya, PKS harus tidak hanya mengandalkan retorika yang menguatkan sentimen keagamaan, tetapi harus menawarkan program terukur. Menurut BM, ini ujian bagi PKS. Sebab, menurutnya, PKS –sebagaimana Partai Islam lainnya- dicitrakan kalah dalam mengusung program terukur untuk kepentingan rakyat.

BM menyakini bahwa kasus dan isu negatif yang terjadi yang melibatkan internal PKS dan tokoh PKS tidak bisa dilepaskan dari tarik menarik yang terjadi. Dilema PKS itu diyakini BM sebagai dilema menjadi partai ideologis atau menjadi partai elektoralis. Jika menjadi partai ideologis, perilaku politik PKS harus dilandaskan pada upaya untuk menyerap kepentingan basis sosial partai yang merupakan aktivis halaqoh, harakah, muda, terdidik, bagian dari masyarakat kota, tetapi memiliki pandangan konservatif dalam beragama. Sedangkan jika menjadi partai elektoralis, PKS harus menjadikan ceruk pasar pemilih sebagai motivasi utama dan kadang harus menomorduakan kepentingan basis sosial PKS. Dan, menurut BM, kedua pilihan ini sulit untuk dikompromikan. Di buku ini BM menceritakan dominasi kelompok progresif dengan dinamika Mukernas Bali (Februari 2008), jargon partai terbuka, bayan DPP PKS, Multaqo Fikri, iklan Guru Bangsa, penolakan Fajroel Rahman, jingle iklan ; Partai Kita Semua, kasus Yusuf Supendi, ‘daging berjenggot’, Hotel Ritz Carlton, dan beberapa kasus lainnya. Bagi BM, tahun 2008-2009 adalah tahun eksperimen menjadi partai terbuka dan menempuh strategi kompetisi electoral.

Bagaimana BM Menyimpulkan?

Bagi BM, PKS tampaknya tidak akan jera untuk memantapkan langkah dalam memperbesar ceruk pasar pemilih dengan mengubah orientasi partai ke tengah dan terbuka. Hasil Pemilu 2009, yang hasilnya belum optimal, diyakini BM tak akan membuat jera PKS. Artinya, di masa depan PKS akan menggunakan strategi kompetisi electoral yang sesuai dengan pasar pemilih.

BM melihat ada 3 tantangan dalam upaya PKS ini. Pertama, PKS ditantang untuk dapat meyakinkan basis massa tradisionalnya bahwa upaya ini tidak mengubah komitmen keislaman PKS. Bagi BM, ini menuntut sikap extra hati-hati agar tidak kehilangan dukungan dari basis massanya. Kedua, PKS menghadapai tantangan untuk meyakinkan pasar pemilih nasionalis dan non muslim bahwa komitmen PKS ini bukan sekadar retorika dan hiasan bibir semata. Ini –menurut BM- tidak lepas dari citra PKS sebagai partai Islam konservatif yang masih melekat di kalangan pemilih nasionalis dan non muslim. Ketiga, PKS menghadapi tantangan soal kredibilitas terutama soal isu anti korupsi dan program kerakyatan. Ketiga tantangan itu harus dihadapi PKS di masa-masa ini.

Penutup.

Meski BM menulis bahwa apa yang sedang terjadi adalah dilema bagi PKS. Tapi BM juga menyimpulkan bahwa PKS memang akan melangkah dengan keputusan-keputusannya. Ada konteks internasional yang bertemu dengan kondisi politik domestik yang membuat langkah PKS mantap untuk memperbesar partai.

Jadi? Apakah PKS dilematis? Menurut saya PKS tidak dilematis. BM juga meyakini bahwa PKS akan memantapkan langkah dalam memperbesar ceruk pasar pemilih. PKS diyakini akan menguatkan langkah untuk memperbesar pemilih. Ini lebih merupakan tantangan, seperti yang diungkap Anis Matta di pengantar buku.

Di saat-saat akhir membaca buku ini, saya bertanya, ‘Jika memang disebut dilema, kapan PKS dilanda dilema atau kegalauan itu? Tahun 1999, PKS sukses dengan situasinya saat itu. Tahun 2004, PKS sukses lagi. Tahun 2009, PKS sukses lagi meski tak sebesar sebelumnya. Kata Anis Matta ini soal kapasitas. Dan apakah PKS akan sukses lagi di 2014? Bisa iya dan bisa tidak. Tetapi, apapun jawabannya, PKS tidak sedang mengalami dilema. Sukses lagi atau tidak, bukan urusan dilema atau tidak bagi PKS.

Anis Matta punya 2 pertanyaan, pertama, Apa yang menyebabkan PKS sukses? Dan kedua, Apakah PKS bisa sukses lagi di masa depan?. Buku ini menjawab pertanyaan pertama. Dan bagi Anis Matta, pertanyaan kedua lebih merupakan tantangan masa depan.

Selamat membaca buku ini kepada anda yang ingin menikmati tulisan seorang ahli tentang PKS. Buku yang bagus, menyajikan banyak data dan buku dengan judul yang menarik. Terima kasih, mas Burhan. Selamat dan sukses.

Terima kasih.
Eko Novianto
Buku-buku yang telah beliau terbitkan :
1. Sudahkah kita tarbiyah
2. Tarbiyah Iqtishadiyah
3. Engkaulah Matahariku
4. Dakwah Dan Manajemen Isu
 
© Copyright PKS Kabupaten Madiun 2012 | Designed by Abuarsyad.